Ancaman Lost Generation Akibat Stunting

Stunting (gagal tumbuh) atau kurang gizi kronis yang kerap disebut gizi buruk telah menjadi masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia. Di Indonesia, tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting (35,6%). Sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek.

Hal ini mengakibatkan WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk. Seorang anak bisa dinyatakan stunting ketika tinggi badannya lima persen di bawah acuan normal. Bahaya stunting tidak hanya dintinjau dari soal fisik, namun juga perkembangan otak yang tidak maksimal.

 

Ancaman Lost Generation Akibat Stunting

Waspadai Stunting pada Anak

Pada 2030, menurut Badan Perencanaan Pembanguan Nasional (BAPPENAS), angkatan usia produktif  Indonesia (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68 persen dari total populasi dan angkatan tua (65 ke atas) sekitar 9 persen. Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan 37,2 persen (9 juta balita) di Indonesia pada 2013 mengalami stunting. Artinya satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting.

Stunting menyebabkan otak anak tidak berkembang dengan baik sehingga menurunkan kemampuan kognitifnya. Ketika kecerdasan menurun, anak akan sulit berprestasi di sekolah. Tak berhenti di situ, efek jangka panjang juga akan terjadi ketika usia produktif. Ketika seseorang memiliki kecerdasan kognitif rendah akan membuat tingkat produktivitas juga rendah saat bekerja.

Berdasarkan laporan Human Development Report 2016, IPM Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 dari 188 negara, sedangkan Tingkat Kecerdasan anak Indonesia dalam bidang membaca, matematika, dan sains berada di posisi 64 dari 65 negara (OECD PISA, 2012), dan anak Indonesia tertinggal jauh dari anak Singapura (posisi 2), Vietnam (posisi 17), Thailand (posisi 50) dan Malaysia (posisi 52).

Dalam jangka panjang, stunting sendiri ternyata juga menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun. Berdasarkan data Bank Dunia pada 2016, jika PDB Indonesia sebesar Rp 13.000 triliun, maka diperkirakan potensi kerugian akibat stunting dapat mencapai Rp 260-390 triliun per tahun. Ketika dewasa, anak yang mengalami kondisi stunting pun berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting.

Dampak jangka panjang stunting juga meningkatkan risiko obesitas saat dewasa dan risiko penyakit degeneratif kronis. Kekurangan nutrisi saat anak-anak akan berefek pada keseimbangan energi, pengaturan asupan makanan, kerentanan terhadap efek makanan yang tinggi lemak serta dapat mengubah sensitivitas insulin.

 

Tanda Anak Mengalami Stunting

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek).

Tidak hanya sekadar pendek, standar baku keadaan tubuh harus merujuk pada standar baku pengukuran tinggi badan menurut usia berdasarkan standar WHO. Selain tubuh berperawakan pendek dari anak seusianya, berikut adalah ciri-ciri stunting lainnya yakni:

  • Pertumbuhan melambat
  • Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
  • Pertumbuhan gigi terlambat
  • Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya
  • Pubertas terlambat
  • Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya

Mencegah stunting sangat penting untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, pertumbuhan ekonomi yang merata, dan memutus rantai kemiskinan antar generasi. Untuk mencegah stunting, disarankan agar memperbanyak makan makanan bergizi yang berasal dari buah dan sayur lokal sejak dalam kandungan.

Selain itu, dibutuhkan pula perhatian pada lingkungan untuk menciptakan akses sanitasi dan air bersih. Karena tidak hanya tugas pemerintah, penurunan angka stunting juga merupakan tanggung jawab semua pihak.

 

Referensi:

Kementerian Kesehatan R.I., 2016. Infodatin situasi balita pendek. Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan RI.

http://www.depkes.go.id/article/view/18052800006/ini-penyebab-stunting-pada-anak.html

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/01/24/p30s85396-who-78-juta-balita-di-indonesia-penderita-stunting

Ancaman Lost Generation Akibat Stunting
4.8 (96.67%) 12 votes

Tinggalkan komentar