Pelayanan 10T untuk Ibu dan Janin Sehat

Di Ibu dan Anak 33 views

Masa kehamilan merupakan masa yang rentan dan perlu perlakuan khusus. Hal ini demi kesehatan dan keamanan ibu dan calon buah hati. Pemerintah pun dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI tidak tinggal diam dan terus berupaya menjamin kesehatan ibu dan anak pada masa kehamilan.

Istilah Antenatal Care sebagai pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis kepada wanita selama masa hamil telah disesuaikan dengan standar yang ditetapkan dalam buku pedoman petugas puskesmas dan rumah sakit. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI (2010), Antenatal Care dalam penerapannya sudah terstandarisasi dengan rumus 10T. Rumus 10T yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pelayanan 10T untuk Ibu dan Janin Sehat

 

1. (Timbang) Berat Badan dan Pengukuran Tinggi Badan

Pertambahan berat badan yang normal pada ibu hamil didasarkan pada massa indeks tubuh (BMI: Body Mass Index) di mana metode ini mengacu pada pertambahan berat badan yang optimal selama masa kehamilan, karena merupakan hal yang penting mengetahui BMI wanita hamil. Pada ibu hamil, total pertambahan berat badan masih dapat dikatakan normal bila sebesar 11,5 – 16 kg atau jika dikonversi setiap minggunya berkisar 0,4 – 0,5 kg.

 

2. Ukur (Tekanan) Darah

Pada saat kehamilan, tekanan darah seorang ibu hamil merupakan faktor penting dalam pemberian nutrisi pada janin. Selama kehamilan, curah jantung dan tekanan atau resistensi pada pembuluh darah akan mengalami perubahan yang juga akan berpengaruh pada tekanan darah.

Tekanan darah normal pada ibu hamil berkisar anatara 110/80 hingga 140/90 mmHg, bila melebihi 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya Pre-Eklampsia (PE). Namun, rentang normal di atas juga bergantung pada tekanan darah normal sebelum kehamilan.

 

3. Ukur (Tinggi) Fundus Uteri

Pemeriksaan kehamilan untuk menentukan perkembangan kehamilan dan berat badan janin dilakukan dengan pengukuran tinggi fundur uteri yang disesuaikan dengan umur kehamilan.

Apabila usia kehamilan di bawah 24 minggu pengukuran dilakukan dengan jari, tetapi apabila kehamilan di atas 24 minggu memakai pengukuran MCDonald yaitu dengan cara mengukur tinggi fundus uteri memakai centimeter dari atas simfisis kefundus uteri kemudian ditentukan sesuai rumus.

 

4. Pemberian Imunisasi (Tetanus Toxoid)/ TT lengkap

Imunisasi ibu hamil difokuskan untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorium, dengan cara pemberian suntik tetanus toksoid (TT).

Imunisasi TT diberikan pada ibu hamil sebanyak 2 kali saja. Imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan 16 minggu dan imunisasi kedua diberikan 4 minggu kemudian (selang waktu 4 minggu).

Apabila ibu pernah menerima imunisasi TT dua kali pada kehamilan terdahulu (dengan syarat jarak kehamilan tidak lebih dari dua tahun) maka imunisasi TT cukup diberikan satu kali saja.

 

5. Pemberian Tablet Besi (Fe)

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadinya menstruasi dan perdarahan. Pemberian tablet Fe dimulai dengan memberikan 1 tablet zat besi sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang.

Setiap tablet besi mengandung FeSO4 320 mg (Fe 60 mg) dan asam folat 500 mikrogram. Sebanyak minimal 90 tablet besi dianjurkan diberikan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Bila ditemukan anemia pada ibu hamil, berikan tablet zat besi 2 atau 3 kali sehari.

Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan konsumsi teh atau kopi. Kandungan kafein pada teh dan kopi dapat menggangu penyerapan zat besi. Anjuran mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C diperlukan, karena vitamin C dapat membantu penyerapan tablet besi sehingga tablet besi yang dikonsumsi dapat terserap sempurna oleh tubuh.

 

6. (Tes) Laboratorium Sederhana

Pemeriksaan darah digunakan untuk mendeteksi apakah terdapat gangguan saluran saraf tulang belakang pada janin yang dapat dideteksi dari pemeriksaan Alpha Fetiprotein (AFP). Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) juga diperlukan untuk mendeteksi kadar Hb pada ibu. Jika kadar Hb menunjukan dibawah 10, maka dapat menyebabkan risiko perdarahan pada saat persalinan.

 

7. (Temu) Wicara (Pemberian Komunikasi Interpersonal dan Konseling)

Temu wicara penting dilakukan sebagai media komunikasi antar sesama ibu hamil dengan tenaga medis yang membina.

Temu wicara ini dikoordinir oleh kepala desa/kelurahan setempat dan dilaksanakan oleh kader posyandu bersama puskesmas dan dilakukan pada saat hari posyandu.

Temu wicara ini dilakukan setiap pasien pada saat melakukan kunjungan berupa anamnesis, konsultasi, dan persiapan rujukan. Anamnesis meliputi biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas.

 

8. (Tentukan) Presentasi Janin dan Hitung DJJ

Tujuan pemantauan janin itu adalah mendeteksi dini ada atau tidaknya faktor-faktor risiko kematian prenatal (hipoksia/ asfiksia, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, dan infeksi). Salah satu cara memantau kesehatan janin adalah dengan pemeriksaan denyut jantung janin (DJJ). Pemeriksaan ritme DJJ baru dapat dilakukan pada usia kehamilan 16 minggu/ 4 bulanan.

 

9. (Tetapkan) Status Gizi

Pada ibu hamil, pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) merupakan satu cara untuk mendeteksi dini adanya Kurang Energi Kronik (KEK) atau kekurangan gizi. Malnutrisi pada ibu hamil mengakibatkan transfer nutrisi ke janin berkurang, sehingga pertumbuhan janin terhambat dan berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Biasanya, BBLR dikaitkan dengan perkembangan volume otak dan IQ seorang anak.

 

10. (Tatalaksana) Kasus

Bila dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan penyakit, ibu perlu melakukan perawatan khusus.

Secara umum, standar 10T masih sering digunakan pada pelayanan kesehatan sehari-hari. Namun di beberapa daerah endemis malaria dan gondok, mulai diterapkan standar pelayanan Antenatal Care 14T di mana dilakukan pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11), pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12), pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok (kondisi kekurangan zat yodium) (T13), dan pemberian terapi artemisin untuk daerah endemis malaria (T14).

 

Referensi:

https://www.unicef.org/media/files/antenatal.pdf

Hendarwan, H., 2018. Kualitas Pelayanan Pemeriksaan Antenatal oleh Bidan di Puskesmas. Buletin Penelitian Kesehatan46(2), pp.97-108.

Pelayanan 10T untuk Ibu dan Janin Sehat
4.8 (96.36%) 11 vote[s]
author
Fakultas Kedokteran Universitas Jember
Memilih Foundation yang Tepat Untuk Kulit Wajah Anda
Memilih Foundation yang Tepat Untuk Kulit Wajah Anda
Ada beragam proses yang harus dilakukan saat
Cara Jaga Pakaian Bayi Agar Awet dan Tidak Mudah Rusak
Cara Jaga Pakaian Bayi Agar Awet dan Tidak Mudah Rusak
Baju bayi terbuat dari kain yang lembut
Si Kecil Terkena Diare? Rawatlah dengan Cara Ini Agar Lebih Cepat Sembuh!
Si Kecil Terkena Diare? Rawatlah dengan Cara Ini Agar Lebih Cepat Sembuh!
Bagian-bagian organ di dalam tubuh anak-anak memang
Bila Anak Suka Mencoret Dinding, Apa yang Harus Dilakukan?
Bila Anak Suka Mencoret Dinding, Apa yang Harus Dilakukan?
Pasti pusing sekali ya ketika melihat dinding
Baca Juga×

Top