“Pola asuh anak sangat menentukan kondisi fisik dan kepribadiannya dalam bersosialiasi.”

Setiap anak masih sangat bergantung pada bimbingan dan perhatian orang tua atau pengganti orang tua dalam mengatur setiap aspek dalam kehidupannya. Orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter setiap anak meskipun perlu digarisbawahi bahwa setiap anak memiliki kekhasan atau sifat unik yang telah ada sejak lahir sehingga orang tua tidak bisa serta merta dapat membentuk anaknya menjadi sebuah boneka yang diinginkannya.

Seorang anak memiliki kecenderungan, kesukaan dan sifat yang akan terus dibawanya hingga dewasa. Orang tua tidak bisa mendikte anaknya untuk menyukai sesuatu yang tidak ia sukai ataupun sebaliknya. Akan tetapi, orang tua dapat mengarahkan anaknya untuk memiliki pribadi yang baik sehingga dapat menempatkan diri dalam kehidupan sosial secara pantas.

Pola Asuh kepada Anak

 

Jenis-Jenis Pola Asuh

Orang tua memiliki pola yang khas dalam mengajarkan kehidupan kepada anaknya. Pola ini disebut sebagai pola asuh. Ada empat jenis pola asuh secara umum yang digunakan oleh orang tua yaitu pola otoriter, permisif, pengabaian, dan demokratif.

Otoriter

Pola otoriter adalah pola asuh yang didominasi oleh kehendak orang tua tanpa boleh dibantah oleh sang anak. Orang tua sangat memaksakan kehendaknya tanpa menjelaskan mengapa kehendak tersebut harus dilakukan atau sebaliknya. Keinginan dan pendapat anak tidak terlalu berarti dalam keluarga dengan pola otoriter.

Permisif

Pola permisif merupakan pola asuh orang tua yang ditandai dengan membolehkan anaknya melakukan apapun serta perhatian yang berlebihan terhadap anak sehingga anak cenderung berperilaku manja dan tidak mandiri.

Pola asuh jenis ini dapat ditemui pada orang tua yang selalu menuruti segala keinginan anaknya serta kurang adanya ketegasan yang disampaikan orang tua kepada anaknya ketika anak tersebut melakukan kesalahan. Orang tua selalu mengalah dengan keinginan anaknya meskipun keinginan tersebut telah melampaui batas.

Jika anak mencapai sesuatu maka penghargaan diberikan dengan baik, di sisi lain, kesalahan yang dilakukan oleh anak tidak mendapat teguran yang pantas sehingga anak tidak belajar untuk memperbaiki kesalahannya.

Pengabaian

Pola asuh jenis ini sekilas mirip dengan pola permisif yaitu karena keduanya sama-sama membolehkan anaknya untuk melakukan apapun.

Namun terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Pola pengabaian memiliki porsi perhatian yang sangat kecil kepada anak. Orang tua lebih bersikap tidak peduli terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya sehingga anak terkesan diperbolehkan untuk melakukan apapun, berbeda jauh dengan pola permisif yang membolehkan anaknya untuk melakukan apapun karena orang tua merasa tidak tega untuk melarang anaknya melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan.

Kedua jenis pola ini juga sama-sama ditandai dengan sikap mudah mengalah dari orang tua. Akan tetapi ada perbedaan makna yang mendasari sikap tersebut di masing-masing pola asuh. Pola pengabaian cenderung mudah mengalah saat menghadapi anak yang sulit diatur karena sudah tidak peduli terhadap apa yang dilakukan dan akibatnya bagi sang anak.

Karena sikap tidak peduli ini orang tua akhirnya membiarkan anaknya berlaku sesuai dengan keinginannya. Di sisi lain, orang tua yang permisif seringkali mengalah kepada sikap anaknya karena mereka terlalu sayang kepada anaknya sehingga tidak melawan keinginan anaknya itu.

Demokratis

Yang terakhir adalah pola demokratis. Pola demokratis merupakan pola asuh perpaduan antara otoriter dan permisif. Hal yang paling mencolok pada pola ini adalah adanya tukar pikiran antara orang tua dan anak pada setiap masalah yang di hadapi oleh keduanya.

Anak diajarkan batasan dalam bersikap oleh orang tuanya seperti pada pola otoriter namun anak tersebut juga diberi penjelasan kenapa ia menerima hukuman atau perlakuan yang dikenakan padanya.

Orang tua juga terbuka mengenai pendapat anaknya tentang peraturan  yang harus dilaksanakan oleh sang anak atau masalah yang dihadapi oleh mereka. Anak memiliki suara dalam pemutusan peraturan yang akan berlaku di rumah. Komunikasi yang baik menjadi kunci bagi terlaksananya pola demokratis.

Dari keempat jenis pola asuh tersebut, mungkin pola demokratis terlihat paling bagus jika dibandingkan dengan ketiga jenis pola asuh yang lain. Namun, dalam praktik sehari-harinya, orang tua khususnya di Indonesia menerapkan pola asuh yang merupakan perpaduan antara pola otoriter, permisif dan demokratis.

 

Perpaduan Pola Asuh

Perpaduan antara ketiga pola asuh ini dapat terjadi karena perbedaan pola asuh antara ayah dan ibu. Ada keluarga yang memiliki ayah yang otoriter sementara ibu yang permisif atau demokratis. Ada juga keluarga yang berlaku sebaliknya.

Perpaduan antara satu pola dengan pola asuh yang lain dapat menimbulkan keadaan saling melengkapi kekurangan dari satu jenis pola asuh dengan yang lain. Meskipun jika salah satu orang tua memiliki pengaruh yang lebih besar di keluarga maka pola asuh yang di bawa oleh ayah atau ibu tersebut ynag menjadi pola asuh dominan di rumah.

 

Pengaruh Pola Asuh dalam Membentuk Karakter Anak

Hubungan Orangtua dan Anak Sangat Penting

Pola asuh dalam keluarga memiliki pengaruh dalam banyak aspek kehidupan seorang anak. Berikut beberapa ulasan pengaruh yang diberikan oleh pola asuh tertentu dalam membentuk karakteristik seorang anak baik mental maupun fisiknya.

Kegemukan

Kegemukan tidak hanya menjadi masalah orang dewasa. Balita yang memiliki berat badan di atas normal dapat memengaruhi kondisi kesehatannya.

Beberapa masalah yang timbul karena kegemukan pada anak atau balita antara lain gangguan bergerak dan tumbuh kembang akibat tumpukan lemak, obstructive sleep apnea, masalah kulit seperti lecet karena gesekan, biang keringat hingga tumbuhnya jamur pada lipatan kulit.

Anak yang gemuk seringkali dianggap sebagai anak yang sehat namun nyatanya tidak seperti itu. Anak yang sehat adalah anak yang pertumbuhannya (tinggi dan berat badan)  berada pada rentang yang sesuai dengan umurnya, tidak terlalu rendah maupun tidak terlalu tinggi serta perkembangannya telah mencapai semua aspek yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak seusianya.

Berkaitan dengan pola asuh, penelitian yang dilakukan oleh Yumni dan Wijayanti menunjukkan bahwa adanya pengaruh pola asuh terhadap kebiasaan makan seorang anak.

Anak-anak yang gemuk memiliki ibu yang demandingness dan responssiveness-nya rendah, sebaliknya anak-anak yang tidak gemuk memiliki ibu dengan demandingness dan responssiveness yang tinggi.

Demandingness adalah aspek yang menunjukkan sikap orang tua dalam menuntut anak untuk makan dan mengendalikan jumlah dan jenis makanan anak. Responssiveness adalah aspek yang menunjukkan sikap orang tua dalam mendampingi anak makan serta responsnya terhadap kebutuhan makan anak.

Demandingness dan responssiveness yang rendah merupakan kombinasi ciri dari pola tipe pengabaian, dengan kata lain pola asuh ibu dalam memberi makan anak memiliki tipe tidak menuntut serta ibu kurang tanggap dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehingga anak memilih sendiri makanan yang disukainya yakni yang memiliki kalori dan gula yang tinggi.

Di lain sisi, ibu dengan demandingness dan responssiveness yang tinggi memiliki pola asuh demokratis dalam memberi makan anak. Tuntutan yang tinggi pada anak untuk makan diimbangi dengan sikap tanggap dalam memenuhi asupan nutrisi anak.

Dalam pola demokratis ini, ibu dan anak dapat mendiskusikan makanan yang disukai anak tapi tetap memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh anak sehingga anak dapat memakan makanannya dengan nyaman dan nutrisi yang tidak berlebih.

Sikap Bullying

Sikap kekerasan antar teman di sekolah atau bullying manjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh orang tua.

Anak yang menjadi korban bullying dapat mengalami cedera fisik maupun mental. Efek bullying juga dapat menurunkan rasa percaya diri anak sehingga menghambat proses anak untuk melakukan keterampilan sosial.

Dibalik dampak yang diterima oleh korban bullying, pelaku bullying memiliki faktor yang mendukung timbulnya perilaku bullying tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Susilo dan Sawitri menunjukkan adanya pengaruh pola otoriter yang diterima oleh seorang anak terhadap timbulnya sikap positif terhadap bullying.

Peraturan yang terlalu ketat di rumah membuat anak melampiaskan perasaan tertekannya dengan melakukan bullying kepada anak yang lain di sekolah di mana orang tua tidak bisa mengawasinya dengan bebas.

Sikap positif terhadap bullying ditunjukkan dengan menganggap bahwa perilaku bullying yang ada di sekitarnya merupakan hal yang wajar dan tidak terganggu dengan adanya sikap bullying yang terjadi di sekitarnya.

Anak dengan sikap seperti ini berpotensi untuk mendukung kejadian bullying dengan tidak mencegah kejadian tersebut jika terjadi di sekitarnya. Sebaliknya anak dengan sikap negatif terhadap bullying menganggap bahwa bullying adalah tindakan yang tidak wajar dan berpotensi untuk melawan tindakan bullying meskipun bukan mereka yang menjadi korbannya.

Maria dan Novianti menyebutkan bahwa setiap jenis pola asuh dapat menjadi pengaruh bagi timbulnya bullying. Pola permisif, misalnya, dapat memengaruhi perilaku bullying saat orang tua terlalu membolehkan anaknya melakukan apa saja sehingga anak dapat mengartikan bahwa tindakan bullying termasuk kegiatan yang diperbolehkan dan wajar.

Pada pola demokratis, saat anak salah mengartikan kebebasannya untuk mengekspresikan diri maka muncullah perilaku bullying di sekolah. Sedangkan pola asuh pengabaian dapat membuat anak merasa kurang mendapat perhatian di lingkungan keluarga sehingga mereka mencari perhatian yang tidak mereka dapatkan itu dengan merisak temannya di sekolah.

Meskipun semua jenis pola asuh berpotensi menimbulkan perilaku bullying, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nurlela, sebagian besar anak dengan pola asuh demokratis tidak melakukan bullying kepada orang lain.

Kecerdasan Majemuk

Kecerdasan secara awam sering diartikan hanya sebagai pencapaian akademik di sekolah. Pelajaran-pelajaran dasar seperti matematika, sains dan ilmu sosial dijadikan patokan untuk menyebut seseorang pintar atau tidak.

Padahal kecerdasan tidak sesempit itu. Ada banyak macam jenis kecerdasan seperti yang dikemukaan oleh Gardner, kecerdasan majemuk, kecerdasan yang melihat bagaimana seseorang memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu, terbagi menjadi delapan macam yaitu, kecerdasan bahasa, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan musik, kecerdasan visual, kecerdasan musik, kecerdasan visual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut dapat dimiliki oleh satu individu namun dalam porsi yang berbeda-beda.

Pola asuh yang berbeda dapat memengaruhi jenis kecerdasan tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Kumojoyo menjelaskan bahwa pola otoriter memiliki pengaruh terhadap kecerdasan naturalis (mahir di sains yang berhubungan dengan sistem alam maupun sistem buatan manusia).

  1. Pola demokratis memengaruhi kecerdasan logis-matematis (pandai matematika, senang permainan menyusun kata dan menyukai komputer) dan kecerdasan naturalis.
  2. Pola permisif berpengaruh pada kecerdasan bahasa (senang membaca, menulis, dan berbicara), kecerdasan logis-matematis, kecerdasan intrapersonal (individu yang percaya diri, senang bekerja sendiri), dan kecerdasan naturalis.

Pola asuh tertentu akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada jenis suku tertentu yang memiliki nilai moral budaya yang mengarahkan masyarakatnya untuk cenderung menerapkan pola asuh jenis tertentu.

Akan tetapi, apapun pola asuh yang kita terima dari orang tua kita maupun yang akan kita terapkan kepada anak-anak kita tidak serta merta kita ambil mentah-mentah karena setiap generasi dan anak memiliki karakteristik khas yang berbeda dari generasi sebelumnya maupun orang lain.

Setiap pola asuh memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tergantung aplikasinya di keluarga dan penerimaan masing-masing individu. Silakan memilih pola asuh yang sesuai dengan moral budaya yang sesuai pula diterapkan kepada anak kita tercinta.

Referensi:

  1. Yumni DZ dan Wijayanti HS. Perbedaan Perilaku Makan Dan Pola Asuh Pemberian Makan antara Balita Gemuk dan Balita Non Gemuk di Kota Semarang. Journal of Nutrition, Vol. 6, No. 1, 43-51. 2017.
  2. Susilo FN dan Sawitri DR. Pola Asuh Otoriter Orang Tua dan Sikap terhadap Bullying pada Siswa Kelas XI. Jurnal Empati, Vol.4, No. 4, 78-83. 2015.
  3. Maria I dan Novianti R. Pengaruh Pola Asuh dan Bullying terhadap Harga Diri (Self Esteem) pada Anak Kelompok B TK di Kota Pekanbaru Tahun 2016. EduChild Vol. 6 No. 1 Hal. 61-69. 2017.
  4. Intelligence Reframed : Multiple Intelligences for the 21th Century. Newyork : Basic Books. 1999.
  5. Kumojoyo A. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Majemuk Siswa SD. Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 2011.
Pengaruh Pola Asuh bagi Anak
5 (100%) 5 votes