Di era globalisasi seperti ini, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin berkembang. Perkembangan teknologi ini juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Dahulu, persalinan dilakukan secara normal dan dengan peralatan seadanya serta dengan berbagai risiko yang dapat ditimbulkan.

Namun dengan berkembangnya ilmu di bidang kedokteran, ditemukanlah ilmu bedah caesar atau bedah sesar yang dimungkinkan lebih aman bagi calon bayi dan ibu yang akan melahirkan apabila terdapat kelainan saat akan melakukan persalinan.

Operasi atau bedah sesar biasanya dilakukan karena si ibu mengalami suatu penyakit seperti hipertensi atau tekanan darah yang di atas batas normal, bayi yang akan dilahirkan kembar, ibu yang mengidap infeksi seperti HIV, posisi janin yang tidak normal, atau sebab-sebab lainnya.

Namun kebanyakan orang tua sekarang mengiginkan operasi dengan jalan bedah caesar untuk alasan mengikuti trend atau kesenangan pribadi. Mereka menginginkan lahiran yang tanpa merasakan sakit atau hanya menginginkan anaknya lahir pada tanggal yang cantik seperti tanggal 1 bulan 1 tahun 2001 yang kebetulan orang tua mereka menyukai angka satu atau karena itu anak yang pertama.

Nah pada artikel ini kita akan membahas mengenai persalinan dengan jalan normal dan bedah atau operasi sesar bagi para ibu yang akan melahirkan.

Persalinan yang Tepat untuk Kebaikan Ibu dan Buah Hati

 

1. Persalinan Normal

Persalinan pervaginam (melalui miss v) atau persalinan dengan cara normal adalah keinginan setiap ibu. Persalinan normal menurut Wiknjosasto adalah proses dikeluarkannya janin yang telah dikandung dengan waktu yang cukup yaitu sekitar 37 minggu hingga 42 minggu di mana lahirnya secara spontan selama 18 jam hingga 24 jam tanpa ada komplikasi yang terjadi baik pada ibu ataupun anak.

1.1 Faktor yang Menyebabkan Persalinan

Faktor yang dapat menyebabkan timbulnya persalinan dibagi menjadi 5 faktor yaitu faktor hormonal, faktor saraf, faktor kekuatan plasenta, faktor nutrisi, serta faktor partus atau nama lainnya adalah persalinan.

Faktor Hormonal terjadi dari minggu pertama hingga minggu kedua sebelum terjadinya kelahiran di mana hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan. Progesteron adalah hormon yang berperan dalam relaksasi otot polos sehingga menyebabkan aliran darah berkurang dan merangsang keluarnya prostaglandin di mana prostaglandin ini merangsang dilepaskan oksitoksin sehingga terjadinya kontraksi uterus atau rahim.

Faktor saraf , ketika janin mengalami perbesaran dan janin masuk ke panggul maka akan menekan ganglion serviks dan terjadinya kontraksi Rahim.

Faktor Kekuatan plasenta , saat terjadi degenerasi plasenta makan hormone progesteron dan estrogen akan menurun.

Faktor nutrisi, jika nutrisi yang diberikan kurang.

Serta faktor partus atau persalinan, terjadi karena dipicu oleh hormone okstoksin.

1.2 Tanda-Tanda Seorang Ibu akan Melahirkan

Tanda-tanda seorang ibu akan melahirkan di antaranya adalah:

  1. Kekuatan his bertambah , his di sini artinya kontraksi. Jika his semakin sering terjadi dan teratur sehingga menimbulkan rasa sakit yang sangat besar.
  2. Keluarnya lendir serta darah yang lebih banyak.
  3. Ketuban pecah
  4. Terjadi pembukaan lengkap serta pemeriksaan serviks mendatar.

1.3 Fase-Fase dalam Persalinan Normal

Dalam persalinan dibagi menjadi 4 kala/waktu. Kala pertama  terjadi saat persalinan hingga terjadinya pembukaan sebesar 10 centimeter. Proses ini berlangsung Antara 18 hingga 24 jam yang terbagi lagi menjadi dua fase yaitu laten, berlangsung selama 8 jam di mana pembukaan terjadi secara lambat dan terjadi hingga mencapai ukuran 3 centimeter; serta fase aktif yang dibagi lagi menja 3 fase yaitu fase akselerasi (terjadi selama 3 jam pembukaan dari 3 sentimeter menjadi 4 sentimeter), fase dilatasi (terjadi selama 2 jam di mana pembukaan terjadi dalam waktu singkat dari 4 sentimeter menjadi 9 sentimeter), dan fase deselerasi (dimana pembukaan kembali melambat dalam waktu 4 jam pembukaan yang awalnya 9 sentimeter menjadi 10 sentimeter).

Akan terjadi pecah ketuban dengan sendirinya jika pembukaan sudah sempurna atau hampir sempurna. Kala pertama ini akan selesai jika pembukaan rahim telah sempurna dan akan berlanjut ke kala kedua.

Kala kedua terjadi lebih cepat dan terasa kuat biasanya terjadi 2 hingga 3 menit sekali hal ini dikarenakan janin sudah masuk ke dalam tulang panggul dan menimbulkan rasa ingin mengejan.

Wanita juga akan merasakan tekanan pada ujung usus besar dan merasa ingin Buang Air Besar (BAB). Kemudian setelah itu perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka, labia membuka dan akan tampak kepala dari janin.

Jika dasar dari panggul sudah berelaksasi maka kepala janin tersebut tidak akan masuk lagi. Setelah dari kepala akan dilanjutkan kepada badan janin. Kala kedua ini biasa terjadi 0,5 hingga 1,5 jam.

Kala ketiga terjadi setelah bayi lahir, rahim akan teraba keras dan agak di atas pusat. Kemudian setelah beberapa menit maka akan terjadi kontraksi lagi sehingga dapat melepas plasenta dari dinting. Waktu pelepasan plasenta biasanya terjadi selama 6 hingga 15 menit setelah bayi keluar dengan spontan. Plasenta ini keluar disertai dengan keluarnya darah. Kala empat, terjadi saat 2 jam pertama setelah lahir. Terjadi perubahan fisik dan adanya pendarahan normal 250 cc. Jika pendarahan lebih dari 500 cc maka hal tersebut merupakan pendarahan yang abnormal.

Penyembuhan luka melalui persalinan dengan jalan lahir akan sembuh dari 7 hingga 10 hari jika tidak terdapat infeksi serta lebih dari 10 hari jika terjadi infeksi.

Menurut penelitian Smeltzer tahun 2002 penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya adalah usia ibu dan gizi, sedangkan faktor eksternal di antaranya adalah lingkungan, tradisi, pengetahuan, status ekonomi, serta penanganan petugas.

Status gizi adalah faktor yang penting untuk ibu dalam penyembuhan luka maka seorang ibu yang bijak dan cerdik perlu memilih makanan yang baik dan bergizi untuk mempercepat pemulihan luka. Kemudian pilihlah makanan yang berserat seperti sayuran serta buah-buahan agar tinja yang dikeluarkan lebih mudah dan tidak menyebabkan luka.

 

2. Bedah Sesar

Kemudian kita akan membahas mengenai bedah sesar. Pertama kita akan membahas mengenai pengertian bedah caesar itu sendiri. Bedah sesar atau dalam bahasa inggris adalah caesarean section menurut Amru Sofian adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding rahim melalui dinding yang berada di depan perut.

2.1 Sayatan pada Operasi Sesar

Ada dua jenis sayatan yang dilakukan di bagian bawah rahim yaitu sayatan melintang dan sayatan memanjang. Sayatan melintang dimulai dari arah selangkang tepatnya di atas kemaluan sepanjang kira-kira 10 hingga 14 centimeter. Keuntungan dari sayatan melintang adalah mengurangi risiko adanya robek rahim pada masa yang akan datang karena pada masa kelahiran segmen yang berada dibagian bawah rahim tidak banyak berkontraksi dan luka setelah operasi dapat sembuh dengan lebih baik dan sempurna. Sayatan kedua adalah sayatan memajang yang meliputi sayatan di bagian tengah sehingga memberikan suatu ruang untuk mengeluarkan bayi. Tetapi, sayatan ini tidak sering digunakan karena rentan oleh komplikasi.

2.2 Trend Operasi Sesar di Indonesia

Berdasarkan data hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), terjadi peningkatan trend operasi sesar di Indonesia. Pada tahun 1991 persentase jumlah persalinan dengan cara operasi sesar mencapai 1,3%, sedangkan pada tahun 2007 terjadi peningkatan menjadi 6,8%. Persalinan dengan cara operasi sesar di desa lebih rendah yaitu 3,9%, hal ini sangat kontras dengan di daerah perkotaan yang mencapai 11%.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika dan Jerman, penyakit yang diderita ibu berpengaruh terhadap persalinan sesar. Penelitian tersebut membuktikan bahwa persalinan bedah sesar yang dilakukan sesudah dilakukan percobaan persalinan normal gagal dikarenakan adanya penyakit kronis yaitu jantung dan asma. Berdasarkan penelitian di Oman juga diketahui bahwa operasi sesar meningkat karena adanya penyakit diabetes.

2.3 Indikasi untuk Melakukan Bedah Sesar

Indikasi untuk melakukan bedah sesar dibagi menjadi tiga, yaitu indikasi medis, indikasi janin, dan indikasi anak:

2.3.1 Indikasi Medis

Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu power, passager dan passage.

  1. Power yaitu kekuatan ibu untuk memberikan tekanan untuk keluarnya bayi (meneran).
  2. Passanger yaitu jika letak anak sungsang atau terlalu besar.
  3. Passage yaitu kelainan panggul sempit, trauma persalinan serius pada jalan lahir atau pada anak, dan adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular ke anak.

2.3.2 Indikasi Ibu

Indikasi dari ibu merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan, indikasi dari ibu ini meliputi:

  1. Usia Ibu yang melahirkan, perhatikan usia saat melahirkan untuk usia 35 tahun hingga 40 tahun ke atas biasanya ibu memiliki penyakit yang berisiko dibandingkan dengan yang berusia 20 hingga 35 tahun, hal tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan di RS Islam YAKKSI di Sragen. Pada ibu yang berusia lebih muda memiliki kekuatan fisik yang lebih besar daripada yang sudah berusia tua, 35 tahun ke atas.
  2. Tulang Panggul Cephalopelvic Diproportion (CPD) yaitu keadaan di mana lingkar panggul ibu lebih kecil dari kepala bayi.
  3. Persalinan sebelumnya dengan sectio caesarea, hal ini juga perlu diperhatikan jika si ibu mengalami keadaan yang sama pada indikasi sebelumnya.
  4. Faktor hambatan jalan lahir, yaitu adanya gangguan misalnya berupa tumor.
  5. Kelainan kontraksi rahim, kontraksi rahim lemah dapat menyebabkan bayi tidak dapat terdorong sehingga perlu dilakukan bedah sesar.
  6. Ketuban pecah dini.
  7. Rasa takut kesakitan.

2.3.3 Indikasi Janin

  1. Ancaman gawat janin (fetal distress) di mana detak jantung janin melambat. Normalnya detak jantung janin berkisar 120- 160 bpm.
  2. Bayi besar (makrosemia)
  3. Letak sungsang, letak janin yang demikian dapat menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang satu dan bokong pada posisi yang lain.
  4. Faktor plasenta
  5. Kelainan tali pusar

 

Senyum Bayi dari Hasil Persalinan yang Tepat

Setiap proses melahiran baik dengan jalan normal atau bedah sesar, keduanya menimbulkan rasa sakit yang dirasakan saat sebelum melahirkan atau sesudah melahikan. Rasa sakit ini memang akan dilalui semua wanita yang akan melakukan persalinan.

Rasa sakit yang dialami wanita tersebut umpamanya seperti retaknya 20 tulang dalam waktu yang bersamaan. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang ibu merasakan ini.

Saat berlangsungnya bedah sesar sang ibu tidak akan merasa sakit karena akan diberi obat bius selama berlangsungnya operasi. Namun proses pemulihan lahiran dengan bedah sesar lebih lama daripada lahiran normal sehingga kebanyakan saat setelah melahirkan ibu-ibu yang melahirkan normal dapat memulai aktivitasnya dengan lebih cepat daripada ibu yang melahirkan dengan operasi caesar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk penyembuhannya. Namun hal tersebut tetap tergantung dari kondisi daya tahan sang ibu.

Konsultasikan kesehatan anda pada dokter kandungan. Apakah persalinan sudah sesuai indikasi atau tidak. Bijaklah dalam menentukan alasan jalan persalinan baik dengan operasi sesar atau persalinan normal. Sifat cerdik dalam mejaga kesehatan untuk tercapainya keselamatan baik dari sisi ibu ataupun calon bayi mutlak harus dipahami oleh para calon orang tua si buah hati.

 

Referensi:

Hardi Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC. Yogyakarta (ID): Media Action Publishing :Yogyakarta

Sofian Amru. 2012. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obsteri Operatif Obstetri. Social edisi 3 jilid 1&2. Jakarta(ID) : EGC

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas normal. Jakarta(ID): EGC

Dewi,Y. 2007. Operasi Caesar, Pengantar dari A sampai Z. Jakarta (ID) : Penerbit Mahkota.

Kasdu. 2003. Operasi Caesar  Masalah dan Solusinya. Jakarta(ID) : Puspa Sehat.

Meltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2). Alih bahasa oleh Agung Waluyo(dkk). Jakarta(ID): EGC.

Novianti Sihombing, Ika Saptarini, Dwi Sisca Kumala Putri.2017. Determinan Persalinan Sectio Caesarea Di Indonesia  (Analisis Lanjut Data Riskesdas 2013)  Jurnal Kesehatan Reproduksi, 8(1): 63-75

Sarwono Prawirohardjo.   Ilmu  kandungan Edisi  kedua.Jakarta (ID):  Yayasan  Bina  Pustaka. 2007

Sarwono Prawirohardjo. Ilmu  kandungan Edisi  kedua.Jakarta(ID):  Yayasan  Bina  Pustaka. 1997

H Wiknjosastro. 2009. Ilmu Kandungan Edisi Keempat. Jakarta (ID): PT.Bina Pustaka

Persalinan yang Tepat untuk Kebaikan Ibu dan Buah Hati
4.9 (98%) 30 votes