Sampah dan kesehatan selalu menjadi persoalan menarik untuk dibahas. Permasalahan dalam pengelolaan sampah hingga berbagai gerakan untuk mengurangi jumlah sampah domestik yang dikeluarkan tiap rumah tangga menjadi topik yang selalu dikaji baik oleh pemerintah, para pegiat lingkungan, hingga masyarakat awam.

Tak mengherankan jika isu sampah dan kesehatan dalam satu abad ini berkembang dengan pesat. Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup di alam semesta semakin disesaki tak hanya oleh jumlah manusia yang semakin bertambah, namun juga oleh buangan para penghuni bumi tersebut.

Sampah yang Ada di Sekitar Masyarakat

Revolusi industri pada pertengahan abad ke-19 memberikan dampak tersendiri bagi timbulnya permasalahan lingkungan di dunia. Perubahan pola industri dari yang semula berada pada taraf rumahan (homemade) berkembang menjadi industri pabrik yang meskipun mengurangi biaya dan waktu produksi namun tidak mengurangi jumlah sampah atau buangan hasil produksi.

Asap hasil pembakaran industri serta limbah cair dan padat dari berbagai bidang industri dapat menimbulkan pencemaran yang menimbulkan kerugian bagi umat manusia, salah satunya adalah kerugian dalam hal kesehatan masyarakat itu sendiri.

Perkembangan teknologi memberikan pencerahan bagi nasib buangan manusia tersebut. Dengan semangat untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya, mulailah dilakukan pengelolaan limbah untuk mengeliminasi zat-zat berbahaya dari limbah yang dibuang sehingga hasil akhir limbah dapat hancur dengan alami oleh faktor alam tanpa menimbulkan kerugian bagi manusia.

Kemudian mulailah timbul semangat 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi sampah anorganik yang sulit terurai secara alami. Negara-negara maju mulai mengembangkan teknologi untuk mengelola sampah sehingga sampah-sampah yang semula seharusnya terbuang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk keperluan lain.

Namun apa kabar Indonesia? Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tidak bisa dibilang sedikit. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237.641.326 jiwa. Lebih dari 200 juta penduduk Indonesia dihadapkan pada permasalahan sampah domestik yang dibuangnya setiap hari.

Sampah yang semakin menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) telah menjadi pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai bagi pemerintah. Dampaknya tidak hanya bagi lingkungan, namun juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Jumlah Sampah = Berat 25 Ekor Paus

Sampah yang Ada di Sekitar Masyarakat

Berdasarkan Infografis hasil riset Waste4Change dan data Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang diterbitkan pada tahun 2014, jumlah sampah yang dibuang masyarakat setiap harinya sebanyak 6.270 ton. Berat ini jika dibandingkan dengan berat paus yang terkenal sebagai mamalia laut terbesar sama dengan 25 ekor paus.

Data ini hanya mencakup daerah DKI Jakarta dan belum mencakup jumlah sampah di Indonesia secara keseluruhan. Bisa dibayangkan betapa banyaknya jumlah sampah di Indonesia yang dibuang oleh penduduk setiap harinya jika tidak dilakuakn pengelolaan sampah yang layak.

Sampah-sampah di Indonesia belum mendapat perhatian serius dari pemerintah dalam proses pengelolaannya. Sampah-sampah domestik yang dibuang oleh tiap rumah tangga hanya akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir di tiap kota.

Sampah-sampah ini kemudian hanya akan dipilah oleh para pemulung untuk dijual kembali. Tidak ada proses pengelolaan sampah yang benar-benar sistematis dari tingkat rumah tangga sehingga mengakibatkan sampah menumpuk begitu saja.

Pemerintah telah menyusun beberapa regulasi terkait pengelolaan sampah. Perhatian pemerintah terhadap problematika sampah yang kian menggunung dari tahun ke tahun tertuang dalam regulasi tersebut. Berikut beberapa diantaranya.

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
  4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah.
  5. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.

 

Sampah dan Kesehatan

Tumpukan Sampah di Sungai yang Tidak Terawat

Sampah dan kesehatan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Sampah identik dengan sesuatu yang kotor dan berbau busuk. Sampah menjadi sumber timbulnya beberapa penyakit yang kerap diderita oleh masyarakat. Pengelolaan sampah yang tidak benar dapat menyebabkan timbulnya bau busuk yang mengundang lalat untuk hinggap.

Seperti yang kita tahu, lalat merupakan salah satu vektor penyakit yang sering hinggap di makanan manusia. Kaki lalat akan mengangkut kuman penyakit dari sampah ke makanan yang ia hinggapi. Kuman dan bakteri ini akan menyebabkan penyakit pada manusia seperti diare.

Tumpukan sampah juga dapat menjadi tempat perkembangbiakan tikus. Tikus merupakan hewan yang dapat menjadi vektor penyakit pes. Pes adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersninia pestis.

Penyakit pes diyakini oleh sebagian besar ilmuwan menjadi penyebab wabah yang memakan korban hingga lebih dari sepertiga penduduk Eropa. Wabah ini populer dikenal dengan sebutan black death. Wabah pes juga pernah menyerang Indonesia pada tahun 1910, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, tepatnya di Malang, wabah pes menyebar. Dengan kegigihan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, wabah pes di Malang dapat diatasi.

Sampah tidak hanya dapat menjadi sarang penyakit. Sampah atau limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dapat berpotensi menyebabkan kerugian langsung jika terpapar. Sampah B3 ada yang bersifat korosif, beracun, hingga teratogenik. Sampah jenis ini memerlukan penanganan khusus pada proses pengelolaannya. Limbah bekas alat kesehatan merupakan salah satu contoh sampah B3. Limbah jenis ini termasuk dalam kategori infeksius dan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit menular.1

Cairan yang dihasilkan dari tumbukan sampah memiliki aroma yang tidak sedap. Cairan ini disebut sebagai leachate dan mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Leachate membutuhkan penanganan khusus karena dapat mencemari lingkungan khususnya air tanah dan air permukaan.

Air merupakan kebutuhan utama manusia. Pencemaran air tanah dan air permukaan berarti mencemari air minum manusia. Bahkan meminum air yang tercemar dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Sanitasi yang buruk akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat menyebabkan berbagai kerugian khususnya bagi kesehatan manusia. Wabah penyakit menular seringkali disebabkan oleh lingkungan dengan tingkat kebersihan yang buruk. Lingkungan yang kotor dapat menjadi sumber penyakit. Tikus dan lalat yang identik dengan tempat kotor dapat berkembangbiak dan penyebaran penyakit dapat dengan mudah terjadi.

 

Jepang: Jumlah Sampah Ditekan Hingga 20 Persen

Negara-negara maju telah menerapkan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Hal ini mengakibatkan jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang banyak. Sampah-sampah tersebut dipilah berdasarkan jenisnya sehingga sebagian besarnya dapat didaur ulang.

Pemberian edukasi ke masyarakat mengenai pemilahan sampah sebelum dibuang telah dilakukan oleh negara-negara ini sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

Jepang merupakan negara yang memiliki pengaturan terkait pengelolaan sampah yang cukup rumit. Umumnya di setiap daerah di Jepang (distrik, kecamatan, maupun kota) memiliki pengaturan pemilahan sampah yang berbeda-beda, seperti di Kota Osaki yang mengharuskan warganya untuk memilah sampah menjadi 25 jenis.

Berbagai jenis sampah tersebut setelah dipilah harus dimasukkan ke dalam kantung plastik berwarna tertentu sesuai dengan jenisnya. Waktu pembuangan sampah juga telah diatur, sampah jenis tertentu akan mendapat jadwal pembuangan berdasarkan hari. Jika sampah dibuang tidak pada jadwalnya maka sampah tersebut tidak akan diambil oleh petugas pengambilan sampah.2

Penyortiran sampah yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dapat menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Di Kota Osaki, sebelum dilaksanakannya pemilahan sampah oleh masyarakat pada tahun 1998, jumlah sampah yang terkumpul mencapai 4.382 ton per harinya. Angka tersebut semakin menurun hingga hanya 20 persen sampah yang masuk ke TPA.

Sampah yang masuk ke TPA kemudian akan dibakar hingga menjadi debu. Debu tersebut lalu dipanaskan hingga diperoleh bahan bangunan yang disebut slag. Slag merupakan bahan bangunan yang memiliki nilai yang tinggi.2

Di negara Eropa, Estonia, Slovenis dan Belgia adalah contoh negara yang paling baik terkait jumlah sampah yang dibuang per tahun. Berdasarkan data Eurostat pada tahun 2014, ketiga negara tersebut merupakan negara dengan jumlah sampah yang paling kecil di antara negara-negara eropa yang lain.

Estonia dengan jumlah sampah yang dikeluarkan per tahun sebanyak 279 kilogram berhasil mendaur ulang 40 persen dari total sampah tersebut. Jerman juga merupakan negara yang dapat menekan jumlah sampah yang dibuang oleh penduduknya. Berkat daur ulang, Jerman hanya mengeluarkan 35 persen dari total sampah yang dibuang, sedangkan 65 persennya dapat didaur ulang.3

Edukasi kepada masyarakat mengenai betapa pentingnya proses daur ulang bagi penurunan jumlah sampah yang terbuang merupakan langkah penting bagi terwujudnya pengelolaan sampah yang sukses. Seperti di Jepang, edukasi mengenai pemilahan sampah telah diberikan kepada anak-anak sejak kelas 3 SD sehingga kesadaran untuk mengelola sampah dengan baik dapat tertanam sejak dini.2

Edukasi keluarga juga penting untuk membentuk perilaku membuang sampah pada tempatnya dan sesuai dengan jenisnya. Perilaku yang ditunjukkan di keluarga akan direfleksikan sebagai kebiasaan yang akan terus dilakukan ketika dewasa.

 

Bank Sampah: Solusi bagi Mimpi Buruk Pengelolaan Sampah

Tren daur ulang sampah dapat ditemui di Indonesia. Bank sampah merupakan program daur ulang sampah yang telah berdiri di berbagai daerah di Indonesia berkat kepedulain masyarakat.

Bank sampah seperti namanya membuat masyarakat dapat menyetorkan sampah miliknya berdasarkan jenis tertentu dan ditukar dengan sejumlah uang sesuai dengan berat dan jenis sampah yang disetor. Strategi menggunakan konsep ‘menjual’ sampah menarik minat warga untuk menyetorkan sampah yang dimilikinya.

Namun dengan ketentuan untuk menyetor sampah setelah dikelompokkan menjadi jenis-jenis tertentu, mendorong masyarakat untuk memilah sampah rumah tangga mereka menjadi jenis-jenis yang diminta. Hal ini dapat menumbuhkan semangat untuk memilah sampah sehingga sampah yang terbuang akan berkurang.

Beberapa bank sampah seperti bank sampah Gemah Ripah di Desa Badegan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta telah beroperasi sejak tahun 2008. Hingga tahun 2012, tercatat bahwa jumlah nasabah di bank sampah ini mencapai 400 nasabah. Bank Sampah lainnya yakni bank sampah Hijau Lestari yang beroperasi di Kota Bandung dan sekitarnya telah memiliki lebih dari 100 unit bank sampah dengan total nasabah berjumlah 2000 nasabah.

Berdirinya bank-bank sampah di seluruh Indonesia memberikan dampak pengurangan sampah hingga 30 persen dengan nilai uang mencapai 31,9 milyar rupiah per bulannya pada tahun 2012.4

Jika bank sampah dapat diadopsi oleh pemerintah sebagai program nasional maka bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang dapat dikurangi dan dampak buruk sampah yang menumpuk dan tidak terkelola dengan baik seperti saat ini sedikit demi sedikit dapat teratasi.

 

Sampah dan kesehatan ini sangat berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Kita harus terbiasa untuk melakukan cara-cara sehat dengan mengelola sampah dengan baik agar kesehatan kita dan keluarga tetap terjaga. Sayangi diri kita dan mulailah mengelola sampah lebih baik lagi.

 

Referensi:

  1. Anggana RD. Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Rumah Tangga. Urban Farming. 2013. http://www.banksampahmelatibersih.com/2013/02/sampah-b3-bahan-berbahaya-dan-beracun.html. [Diakses pada 18 Agustus 2018]
  2. Zulkifli A. Belajar Mengelola Sampah dari Jepang. Info Lingkungan (Blog). 2013. http://informasi-lingkungan.blogspot.com/2013/06/belajar-mengelola-sampah-dari-jepang.html. [Diakses pada 18 Agustus 2018]
  3. Apriliana M. Menengok Pengolahan Sampah Dunia, dari Israel hingga Jepang. CNN Indonesia. 2015. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20151105084240-134-89591/menengok-pengolahan-sampah-dunia-dari-israel-hingga-jepang. [Diakses pada 18 Agustus 2018]
  4. Lestari S. Bank Sampah, Ubah Sampah Jadi Uang. BBC Indonesia. 2012. https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/07/120710_trashbank. [Diakses pada 18 Agustus 2018]
Problematika Sampah dan Kesehatan Masyarakat
4.8 (96%) 5 votes